Apakah Anak Modern Bisa Bersosialisai Dengan Baik?

GambarGambar

Manusia merupakan makhluk sosial yang butuh campur tangan orang lain dalam kehidupan sosialnya. Kebutuhan manusia yang satu ini sudah terbentuk jauh sebelum manusia dilahirkan. Bahkan sejak berada di dalam kandungan pun manusia sudah membutuhkan orang lain, yang paling gamblang terlihat yaitu membutuhkan keberadaan ibunya. Kehidupan manusia dilingkungan sosial akan terbentuk melalui cara atau pola didik yang diterapkan orang tuanya.

Terdapat beberapa pola pengasuhan anak yang ternyata berdampak negatif pada psikologi mereka. Selain berdampak pada psikologi, hal itu juga mempengaruhi pada perkembangan kepribadian anak. Saya ambil contoh menurut kajian kultur Jawa. Secara kultural pengasuhan terhadap anak di Indonesia, termasuk di Jawa, masih didominasi oleh pola budaya patriarkis. baca selanjutnya

Busanaku

Jarik Lurik dan kebaya ungu kesayanganku. Foto ini diambil ketika berlangsungnya acara Festival Senyum Merapi pada bulan Juli 2012 lalu.

Antara identitas dan prioritas. Ditengah-tengah tugas untuk mendokumentasikan acara, masih juga sempat bergaya untuk mengenang setiap laku yang pernah dilewati. Kata seorang teman, apalah arti perjalanan hidup tanpa terdokumentasikan. Karena, kita jua akan lenyap dimakan usia dan waktu. Jadi, rilislah sejarahmu sendiri dalam tuak-tuak tulisan. Kurang lebih seperti itu  maksud temanku.

Bergaya sebelum riasannya dimusnahkan. Berdandan begitu anggun untuk acara pernikahan saudara. Masih dengan jodoh warna kebaya kesukaanku. Ungu, warna janda namun bagiku ungu adalah warna yang anggun. Nice colour. :)

By: Beautyfull girl

By Nena Ardiani Posted in Album

Warna Warniku

Aku penuh warna dan selalu berubah-ubah dari masa ke masa. Menjalaninya tak semudah seperti melewati satu pintu ke pintu yang lain. Tapi, slalu ada tantangan dan ujian di balik pintu-pintu itu. Maka aku bertransformasi. Daunku begitu menakjubkan jika begini. Pilihlah satu warna untuk kau simpan. Tak apa daunku tanggal satu. Karna masih akan ada daun yang lain menemaniku.

Warnnya membuat kita tertegun untuk memahami. Gelayut embun beningnya serasa menyiratkan perpaduan yang pas. Ia tertunduk untuk menunggu. Sedikit menganga untuk merasakan. Kemudian bila tiba waktunya, mekarlah ia selebar-lebarnya. Inilah jiwa-jiwa dalam penantian.

Semakin mekar dahanku, kini embun-embun yang segar juga mendapatkan tempat yang nyaman disana. Ia membantuku terlihat semakin cantik. Walau basah karna titik-titik airnya, tapi aku menikmati ketika setiap tetesnya melewati lekuk dahanku. Mengaggumkan sekali ketika kudapati diriku berpendar pelangi.

Trimakasih embun pagiku,

Trimakasih  warna warniku.

By my self, for you all

By Nena Ardiani Posted in Prosa

Nightmare

Lirih angin dan dering jangkrik malam ini terpantau telinga manusiaku.

Desir demi desir membuat kelam dalam dingin semakin membeku.

Sementara dering jangkrik makin keras dan semakin mengeras,

telah mencipta cerita dan menghunus malam-malamku.

Terasing dalam kamar persegi,

menghitung sudut yang tak pernah berubah,

memejamkan mata pun serasa gambar-gambar nyata masih melekat tebal di ingatan.

baca selanjutnya

By Nena Ardiani Posted in Puisi

Pemuda Lereng Merapi, Pengawal Tradisi: Catatan Perjalanan dari Desa Sumber Magelang

Oleh: Mel Damayanto

Pada suatu pagi yang dingin di bulan Juni itu, ketika saya sedang berdiri di tepi jalan pedesaan berbatu untuk menikmati kehangatan matahari pagi, beberapa orang berjalan terburu-buru melalui saya sambil memegang secarik kertas. Mereka semua turun mengarah ke selatan. Ini pagi pertama saya di lereng barat Gunung Merapi. Tepatnya di dusun Diwak, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang Jawa Tengah. baca selanjutnya

Aneh

Sesekali terasa nyeri sekujur tubuh ketika tiba-tiba kabarmu melintasi alam sadarku.

Berkeping-keping tanya tentang sebuah keadaan mencuat dan berdenyut-denyut.

Seakan itu serupa antara sakit hati dan sakit jantung.

Aneh……………

Sekelebat bayangan itu bisa kuabaikan.

Rasanya seperti berjalan dengan cerminan masa lalu.

Semua bicara,semua menyimpulkan, dan semua menyalahkan.

Masih bisakah aku bicara atas nama sebuah rasa manusia?

ataukah memang sebatas ini saja manusia menebarkan perasaannya?

Kupertegas emosi yang meluap-luap dalam tikaman kata.

Semakin meledak dan masih pilu.

Semuanya kelabu dan semakin tak tentu.

Tapi satu yang tak pernah mengabu,

ketulusan yg ada untuk diriku.

For my Self

By Nena Ardiani Posted in Puisi

Sanggar Sapu Lidi dan Calung Donal Duck

 

 

 

Belajar, bermain, dan berkarya bersama.

Tumbuh bersama pula dalam warna ceria.

Ulaskan senyum di sudut bibir, seraya berangkulan tangan bahu membahu.

Agar semakin kuat, bergandengan tanganpun selalu kami lakukan.

Bersama dalam suka duka, dalam kekompakan dan kasih sayang.

 

 

By Nena Ardiani Posted in Album

21 Juni 1970 Tanggal Meninggalnya Bung Karno

Sejarah memang tidak dapat diulang. Tapi sejarah masih bisa kita rasakan ketika selembar kisah tentang orang terbaik negeri ini, mantan presiden Soekarno di unggah. Aku membaca, seolah-olah bapak ada di depan mataku, kesakitan didepan mataku, dan bayangkan saja, aku bisa menangis sesenggukan. Karna jujur saja, nggak semua sejarah aku tahu dan bisa aku ingat dengan baik.

Tak lama setelah mosi tidak percaya parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dam MPRS menunjuk Suharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam. baca selanjutnya

Makes New Friends

Aku punya mimpi dan obsesi baru. Rasanya takkan ada masalah kalau aku memutuskan ini sudah “ketetapan”. Yeah, dari sebuah buku aku mulai menyukai obsesi baruku ini. Bisa dibilang ini sedikit konyol dan berlebihan. Tapi setidaknya masih bisa di tolerir. Aku tertarik sesuatu yang berbau “mancanegara”. baca selanjutnya